Hutang = Riba … ???

0
179

Tidak Semua Transaksi Utang Piutang Mengandung Riba

Oleh: Yayan Suryana*)

 

Utang-piutang merupakan aktivitas manusia di bidang muamalah yang sangat wajar terjadi. Hal ini menjadi bukti bahwa manusia bukan makhluk yang sempurna. Manusia memiliki kelemahan dan kekurangan. Saat menemui kesulitan dan kekurangan, manusia akan bergerak meminta tolong dan bantuan kepada orang lain. Dari situlah tradisi utang-piutang dimulai.

Hukum asal dari utang piutang adalah mubah atau boleh, sebab tidak ada dalil yang melarang dan tidak pula ada dalil yang memerintahkannya secara spesifik. Kebolehan melakukan transaksi utang-piutang diperkuat dengan adanya ayat dalam al-Qur’an yang menganjurkan agar menuliskan setiap transaksi yang tidak dilakukan secara tunai.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. (QS. Al-Baqarah: 282).

Ayat tersebut bukan dalil yang memerintahkan utang-piutang, tetapi sejurus dengan pemahaman ayat, bahwa dimungkinkan adanya transaksi dengan jalan utang-piutang. Maka jika kita melakukan transaksi dengan jalan utang-piutang sebaiknya dicatatkan agar tidak menimbulkan hal-hal negatif dikemudian hari. Pencatatan itu sangat berguna, bisa menjadi alat bukti yang penting untuk menunjukkan para pihak yang terikat dalam transaksi atau akad tersebut.

Utang-piutang bisa muncul akibat adanya pinjam meminjam dan  bisa juga  karena adanya transaksi jual beli tidak secara tunai. Dalam pinjam meminjam tidak ada keuntungan yang diperoleh oleh pihak yang meminjamkan kecuali kebaikan sosial yang dihargai secara sosial dan spiritual keagamaan. Jika transaksi pinjam-meminjam menyertakan margin keuntungan (jasa) bagi pemberi pinjaman berupa kelebihan dari pokok utang maka hukumnya berubah dari boleh (mubah)  menjadi terlarang (haram), sebab termasuk dalam kategori riba.

Sementara pinjam meminjam yang muncul akibat transaksi jual beli yang tidak tunai (murabahah), dipastikan ade keuntungan yang diperoleh oleh penjual sebab traksakasinya adalah transaksi jual beli. Keuntungan yang diterima bukan tambahan dari pinjaman tetapi dari keuntungan jual beli yang telah disepakati di awal saat melakukan akad murabahah.

Kehalalan jual beli dan keharaman riba sudah sangat jelas disebutkan dalam al-Qur’an.

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al Baqarah : 275)

Sepanjang para pihak dalam bertransaksi jual bela  itu telah saling ridha, dilandasi kejujuran, keadilan, dan tidak mengandung unsur kebatilan serta kezhaliman, maka transaksi itu diperbolehkan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. (QS. Al- Nisa : 29)

 

*) 1. Anggota Pengawas Syariah KSPPS BMT AL IKHWAN

  1. Dosen UIN Sunan Kalijaga